SKI : DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW KE THAIF


SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
BAGIAN KE-14
HIJRAH DAN DAKWAH KE THOIF

        Setelah merasa dakwahnya di makkah kuran berhasil, Nabi Muhamad saw. berusaha untuk melanjutkan dakwahnya ke daerah lain. Daerah yang akan dituju adalah Thoif. Akan tetapi, tanggapan yang diterimanya hasilnya sama saja. Nabi Muhamad saw. ditolak dan sakiti bahkan samapi dilempari batu hingga berdarah-darah.

        Setelah meninggalnya Abu Thaib dan Khadijah, perjalanan dakwah Nabi Muhamad saw. semakin berat. Kaum kafir Quraisy menjadi lebih
berani dalam merintangi dan mengganggu dakwah Nabi Muhamad saw.

        Karena adanya gangguan yang sedemikian rupa, Nabi Muhamad saw.m menganggap bahwa Makkah tidak lagi bisa dijadikan sebagai pusat dakwah. Nabi Muhamad saw. kemudian berusaha untuk menyebarkan ajaran agama Islam ke Thoif.

A.       DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW KE THAIF

       Kota Thoif merupakan kota yang terletak kurang lebih 65 km di sebelah tenggara kota Makkah. Kota Thoif memiliki udara yang sejuk dan tanahnya subur. Penduduknya menanam kurma, anggur, semangka, persik, badam dan madu. Kota Thoif termasuk kota yang penting dalam sejarah perkembangan Islam. Kota Thoif diterangkan dala Al-Qur’an surat az-Zukhruf ayat 31.

وَقَــالُوْا لَوْلَا نُــزِّلَ هَــذَا اْلــقُــرْآنُ عَلَى رَجُـلٍ مِنَ الْـقَـرْيَــتَيْنِ عَظِــيْمِ
Artinya :
“Dan mereka (juga) berkta”Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri ini (Makkah dan Thoif) ”” (Q.S. Az-Zukhruf : 31)

        Dari ayat diatas, yang dimaksud dengan Qoryataini adalah makkah dan Thoif. Dengan demikian, Thoif dianggap sebagai kota yang mempunyai kedudukan setara denga Makkah. Penduduk dua kota itu mengingkari Wahyu dan kenabian Nabi Muhamad saw. Menurut mereka, seorang yang diutus menjadi Rasul itu hendaklah seorang yang kaya dan berpengaruh.

        Pada waktu itu, Thoif didiami penduduk dari Bani Saqif. Mereka terdiri dari dua suku, yaitu Bani Ahlaf dan Bani Malik. Bani Ahlaf menguasa bidang diplomasi, militer dan penyembahan berhala. Dari suku Ahlaf lahir penyair-penyair besar yang tampil pada festival tahun Ukaz. Sedangkan Bani Malik menguasai bidang ekonomi dan pertahanan sebagai tuan-tuan tanah.
      
B.       HIJRAH DAN DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW KE THOIF
        Dalam usahanya berdakwah di Thoif, Nabi Muhamad saw. ditemani oleh anak angkatnya yang bernama Zaid bin Harisah. Keperhian Nabi Muhamad saw. ke Thoif ini terjadi pada dua tahun menjelang hijar ke Madinah. Mereka berdua menuju Thoif dengan berjalan kaki.

        Sesampainya di Thoif, Nabi Muhamad saw.menemui beberapa tokoh penguasa Thoif yaitu Yalail, Mas’ud dan Hubaib. Kepada mereka Nabi Muhamad saw. menyampaikan pokok-pokok ajaran Islam dan beliau juga berharap agar mereka bersedia membantu usahanya dalam menyebarluaskan ajaran Islam.

        Para penguasa Thoif menolak seruan Nabi Muhamad saw. dan berkata “Sekiranya kata-kata yang kamu serukan itu baik, tentu famili dan kaum kerabatmu akan menerima terlebih dahulu.” Setelah itu mereka mengusir Nabi Muhamad saw. Bahkan, mereka menyuruh penduduk Thoif untuk menyakiti Nabi Muhamad saw. Mereka menyoraki, mengejek, memukuli, dan melempari Nabi Muhamad saw. dengan batu. Akibatnya tubuh Nabi Muhamad saw.penuh luka dan berlumuran darah. Zaid bin Harisah berusaha melindungi Nabi Muhamad saw. dari tindakan penduduk Thoif. Akibatnya ia juga menderita luka yang cukup parah. Sekujur tubuhnya berlumuran darah.

        Dengan bertatih-tatih, mereka meninggalkan Thoif dan beristirahat dibahwah pohon kurma milik seorang penduduk Thoif bernama Rabi’ah. Nabi Muhamad saw. merenungi peristiwa yang baru saja beliau alami. Harapan Nabi Muhamad saw. untuk mendapat dukungan dari Thoif hilang sudah. Mereka malah memberikan perlakuan yang buruk terhadap Nabi Muhamad saw.

        Perlakuan penduduk Thoif itu tidak terlepas dari campur tangan orang-orang Quraisy Makkah. Mereka telah datang ke Thoif beberapa saat sebelumya. Mereka mengatakan bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhamad saw. adalah bohong belaka. Mereka juga mengancam kepada penduduk Thoif akan membaikotnya apabila mengikuti ajakan Nabi Muhamad saw. Karena ancaman itulah, penduduk Thoif menolak ajakan Nabi Muhamad saw.

        Dan dalam keadaan yang menyedihkan itu, Nabi Muhamad saw. memanjatkan doa. “ya Allah! Kepada-Mu lah hamba mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku, dan kehinaan dihadapan manusia. Wahai yang Paling Pengasih diantara para pengasih! Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah, Engkau Tuhanku, kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab sungguh banyak kesehatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berpaling kepada Cahaya Wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan yang menjadikan segala urusan duniadan akhirat menjadi baik agar Engkau tidak menurunkan kemarahan-Mu kepadaku tau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau Ridho. Tidak ada daya dan upaya selain dengan-Mu”.

        Mengetahui keadaan Nabi Muhamad saw. Rabi’ah merasa kasihan. Ia bermaksud menolong beliau dan mengambil beberapa butir kurma, kemudian ia menyuruh budaknya yang bernama Adas untuk menyerahka kurma tersebut kepada Nabi Muhamad saw.

        Kedatangan Adas untuk memberikan kurma itu sedikit mengurangi kesedihan Nabi Muhamad saw. Sambil memakan kurma, Nabi Muhamad saw. bertanya kepada Adas, “Dari mana asalmu?” Adas menjawab “Saya berasal dari Niniveh, agama saya Nasrani”. Nabi Muhamad saw. kemudian menerangkan asal kelahiran nabi Yunus bin Matta. “Nabi Yunus adalah saudaraku, ia seorang nabi dan aku juga seorang nabi”. Saat itu juga Adas membungkuk dan mencium Nabi Muhamad saw. dan menyatakan masuk Islam.

        Dengan sedih hati, Nabi Muhamad saw. berjalan kembali menuju Makkah. Ditengah perjalanan, Malaikat penjaga gunung menjumpainya dan berkata “Wahau Muhammad! Jika kamu berkehendak, aku akan mengangkat gunung ini dan menjatuhkannya diatas kaum laknat itu.” Nabi Muhamad saw. menjawab “jangan! Aku harap Allah swt. mengeluarkan mereka dari penyembahan berhala kepada menyembah Allah swt. semata. Dan tidak menyekutukan sesuatu pun kepada-Nya.”

        Demikianlah keluhuran budi dan belas kasih Nabi Muhamad saw. beliau tetap memaafkan orang yang jelas-jelas memusuhi dan menyakitinya. Bahlan, beliau tetap mendoakan mereka agar Allah memberikan petunjuk kepada mereka.
  
C.       KEMBALI KE MAKKAH
        Nabi Muhamad saw. dan Zaid bin Harisah meneruskan perjalanannya menuju Makkah untuk pulang. Namun, berniat tentang dakwah Nabi Muhamad saw. ke Thoif telah sampai ke teling kaum kafir Quraiys. Hal itu membuat mereka makin memusuhi Nabi Muhamad saw. dan pengikutnya.

        Sekembalinya dari Thoif Nabi Muhamad saw. tidak langsung ke Makkah. Hal itu disebabkan sudah tidak ada lagi orang yang akan melindunginya. Kabilahnya sendiri yang dipimpin oleh Abu Jahal juga menolak memberi perlindungan. Untuk beberapa hari lamanya, Nabi Muhamad saw. bersembunyi di gua Hiro’.

        Dari tempat persembunyiannya itu, Nabi Muhamad saw. berusaha menghubungi orang-orang yang bersedia melindunginya. Orang yang pertama didekati oleh Nabi Muhamad saw. adalah Akhnas bin Syariq dari Bani Zuhroh. Akan tetapi, ia tidak bersedia memberinya perlindungan.

        Setelah itu, Nabi Muhamad saw. berusaha meminta perlindungan kepada Suhail bin Amr dari Bani Amr. Namun ia juga menolak untuk emmberikan perlindungan. Akhirnya, perlindungan itu diberikan oleh Mu’tim bin Adi. Kepala bani Naufal. Dengan perlindungan tersebut, Nabi Muhamad saw. akhirnya kembali memasuki kota Makkah dan meneruskan dakwahnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SKI : DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW KE THAIF"