BIOGRAFI SYEKH MUHAMMAD SYAKIR

BIOGRAFI SYAIKH MUHAMMAD SYAKIR
Dia adalah seorang ‘alim yang mulia dan penulis yang produktif, seorang pembaharu universitas Al-Azhar dan tokoh yang mulia. Adalah Syaikh Muhammad Syakir bin Ahmad bin Abdil Qadir bin Abdul Warits dan keluarga Abi ‘Ulayyaa’ dan keluarga yang dermawan yang telah dikenal sebagai keluarga yang paling mulia dan yang paling dermawan di kota Jurja.
Syekah Muhammad Syakir termasuk keturunan dari Sayyidina Ali (Karromallohu Wajhah) yang lahir di Jurja pada pertengahan Syawal tahun 1282 H. Beliau menghapal Al-Qur’an dan belajar dasar-dasar studinya di Sana' kemudian beliau rihlah (bepergian untuk menuntut ilmu) ke universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
Beliau belajar kepada guru-guru besar pada masa itu, kemudian dia dipercayai untuk memberikan fatwa pada tahun 1307 H. Dan kemudian beliau menduduki jabatan sebagai ketua mahkamah mudiniyyah Al-Qulyubiyyah, dan tinggal di sana selama tujuh tahun sampai beliau dipilih menjadi Qadhi (hakim) untuk Negeri Sudan pada tahun 1317 H. Dan dia merupakan orang pertama yang menduduki jabatan ini, dan orang yang pertama pula yang menetapkan hukum-hukum ke-Hakim-an yang sarat dengan syar’iyah di Sudan di atas asas yang paling terpercaya dan paling kuat. Kemudian pada tahun 1322 H beliau ditunjuk sebagai guru bagi para ulama-ulama lskandariyyah sampai membuahkan hasil, dan memunculkan bagi kaum muslimin orang-orang yang menunjukkan (umat supaya) dapat mengembalikan kejayaan Islam di seantero dunia, kemudian beliau ditunjuk sebagai wakil bagi para guru Al-Azhar, sampai beliau menebarkan benih-benih yang baik, kemudian beliau menggunakan kesempatan pendirian Jam’iyyah Tasyni’iyyah pada tahun 1913 M kemudian beliau berusaha untuk menjadi anggota organisasi tersebut, sebagai pilihannya dari sisi pemerintah Mesir, dan dengan itulah beliau meninggalkan jabatannya, serta enggan untuk kembali kepada satu bagianpun dan jabatan-jabatan tersebut, dan beliau tidak lagi berhasrat kepada sesuatu yang memikat dirinya, bahkan beliau lebih mengutamakan untuk hidup dalam keadaaan pikiran, amalan, hati dan ilmu yang bebas lepas, dan dia memiliki pemikiran-pemikiran yang benar pada tulisannya, dan ucapan-ucapan yang membakar, senantiasa ada yang menentang itu semua yang mengumandangkannya pada pikiran-pikiran sebagian besar orang-orang yang bensikeras terhadap perkara-perkara Ijtimaiyyah, dan termasuk dan karakteristik beliau yaitu bahwa beliau mengokohkan agamanya, mengokohkan dirinya di dalam aqidahnya, mengokohkan pemikirannya, dia itu pemberani bukan pengecut, dia tidak menghindar dari seorangpun, dan dia tidak merasa takut kecuali hanya kepada Allah Ta’ala.
Dan dia adalah orang yang kokoh di dalam keilmuan baik secara Naqliyah (dalil-dalil Al-Kitab dan As-sunnah) maupun secara Aqliyah (dalil secara logika), dan tidak ada seorangpun yang dapat menyepak dia di dalam diskusi maupun perdebatan karena dalamnya dia di dalam menegakkan hujjah-hujjah dan membuat sang pendebat menjadi terdiam, karena kesuburan otaknya dan pemikiran-pemikirannya yang berantai, dan karena pemikiran-pemikirannya terangkaikan di atas kaidah-kaidah mantiq yang shahih lagi selamat.
Dan pada akhir umur beliau terbaring di rumahnya karena sakit, dan beliau selalu berada di ranjangnya, tatkala lumpuh menimpanya beliau merasakannya dengan sabar dan penuh berharap (akan ampunan-Nya), beliau ridha terhadap Tuhannya dan terhadap dirinya, dengan penuh keyakinan bahwa dinirya benar-benar telah menegakkan apa yang diwajibkan bagi dirinya berdasarkan agamanya, dan umatnya, menunggu panggilan Rabbnya kepada hamba-Nya yang shaleh. 
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam sorga-Ku” (AI-Fajr: 27-30)
Syekh Muhammad Syakir wafat pada tahun 1358 H. atau bertepatan dengan tahun 1939 M. Semoga Allah Merahmatinya juga terlimpah bagi anak beliau yaitu Al-‘Allamah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir Abil Asybal seorang Muhaddits besar yang wafat pada tahun 1958 M rahimahullah yang telah menulis suatu nisalah tentang perjalanan hidup ayahnya yang diberi nama “Muhammad Syakir” seorang tokoh dan para tokoh zaman. 

Subscribe to receive free email updates: